Langsung ke konten utama

Tentang Wamena Papua

Wamena Papua


Foto : peta wamena papua.
              Apa yang pertama kali terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata “Papua”?
Orang-orang memakai koteka? Bakar batu? Perang suku? Honai?  atau orang-orang berkulit hitam dan berambut keriting? Tetapi untuk perang suku mereka lakukan dulu, sekarang sudah tidak pernah perang suku lagi hehe. Mungkin yang adanya hanya bentrokan antara warga, kecuali di wamena tiap tahun ada iven karnaval dimana mereka akan tunjukan cara perang di masa dulu antara suku dan budaya-budaya lainnya.


Aku jakin, dibenak sebagian besar orang akan terlintas salah satu dari beberapa hal diatas sebagai jawabannya iya atau tidak.

Foto : di pintu keluar airport wamena 
Eittss, tapi jangan salah.Walaupun hal-hal diatas terdengar khas Papua, tapi tidak disemua daerah Papua anda bisa mendapatinya. Jika anda datang ke kota Jayapura ataupun ke kota Papua lainnya anda mungkin tidak akan menemukan orang-orang yang memakai koteka ataupun rumah honai. Yups munkin ketika anda pertama kali datang ke Papua, terus turun di jayapura didalam pikiran anda bisa ketemu orang yang pakai koteka tersebut, tetapi anda tidak bisa ketemu orang-orang yang seperti diatas karena hanya ada cuman di Wamena saja. 

              Di Jayapura orang-orangnya sudah berpakaian lengkap, Jayapura sendiri sudah ramai dan sudah lumayan maju tidak beda dengan kota-kota lainnya di Indonesia.
            Tapi untungnya, semua yang terdengar khas Papua tersebut masih bisa anda jumpai di Kota Wamena Papua.The Heart of Papua. Makanya banyak pengunjung bahkan masyarakat yang bilang: “belum datang ke Papua kalau belum injak kaki di Wamena berarti anda belum bisa mengatakan saya ke Papua”. Karena di wamena adalah jantung dari pulau Papua atau The Heart of Papua. Menurutku  kalau mau mendatangi “the real Papua”, maka datanglah ke Wamena. Mungkin anda belum pernah mendengar tentang Kota Wamena tapi mungkin anda pernah mendengar tentang “Lembah Baliem” bukan? Apalagi bagi para penggemar Band Slank, pasti pernah dengar tentang Lembah Baliem ini, karena merupakan salah satu judul lagu mereka.
Foto : kota wamena dari atas pesawat.
Foto : Festival lembah baliem
Sebenarnya,  lembah Baliem itu di Wamena. Dikota ini, kalian akan bisa mendapatkan banyak hal yang unik dan menarik, diantaranya masih ada orang memakai koteka, ada banyak Honai, masih sering terjadi perang suku dan sebagainya. Belum lagi wisata berupa Festival tahunan (Festival Lembah Baliem) ataupun wisata alamnya : misalnya mummy kepala suku,  goa Lokale di kurulu, mata air asin, telaga biru, danau Habema, puncak Jayawiya dan masih ada banyak lagi.

 Orang bilang ’tak kenal maka ‘tak sayang makanya, kita kenalan sama Wamena Yuk.
foto : dari atas pesawat.
Wamena adalah sebuah kota dan merupakan ibukota Kabupaten Jayawijaya. Berlokasi ditengah-tengah Papua,  Wamena terletak di sebuah lembah yang sangat luas yang disebut Lembah Baliem. Kota ini berada diketinggian sekitar 1.600 mdpl dan bersuhu sejuk cenderung dingin, serta dikelilingi oleh deretan pegunungan Jayawijaya yang merupakan deretan pegunungan tertinggi di Indonesia.

             Nama Wamena berasal dari bahasa Dhani, yaitu “Wam”: babi dan “Ena”: jinak. Dari cerita yang aku dengar, sejarah nama kota ini berawal ketika Missionaris asing mulai masuk kesini…dimasa itu ada Missionaris yang terheran-heran melihat seorang mama-mama setempat yang sedang menggendong dan menyusui seekor anak babi yg masih kecil. Missionaris yang terheran-heran itu sempat bertanya ke sang mama, dan kemudian mama tersebut menjawab: “wam, wam…ena..ena..”

Yang kalo kita artikan, mungkin maksudnya “tidak apa…ini babi, babi jinak”. Dari dialog singkat ini kemudian sang Missionaris memberi nama kota ini dengan nama Wamena. Tapi kalo berdasarkan hasil nanya ke mbah google, ternyata asal nama Kota Wamena ini ada 2 versi. Versi pertama mengatakan bahwa Wamena berasal dari kata Wa dan Mena yang artinya "anak babi", dan akhirnya Kota ini dinamakan demikian karena ada kesalahpahaman pembicaraan antara seorang gadis asli dengan seorang asing yang dinamakan Ap huluan. Sedangkan versi yang kedua mengatakan bahwa asal mula nama Wamena berasal dari sebuah telaga yang ada di daerah tersebut. Mana yang benar? Wallahu'alam. Yang penting sekarang, Wamena adalah nama resmi dari kota ini.

Foto : Bandara Udara Wamena.


Untuk mencapai Wamena dari Jayapura hanya bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang. Perjalanan udara ini ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit dengan harga tiket 800 – 900 ribu (Trigana Air, harga thn 2013 sebelum BBM naik.  Untuk sekarang setelah BBM naik, saya tidak tahu harganya ikut naik atau tidak.


Postingan populer dari blog ini

Dari Pesta Babi untuk Papua: Ketika Hutan Hilang, Ruang Belajar Anak-Anak Ikut Hilang

Termotivasi dari Film Pesta Babi  Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengangkat kehidupan masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi pembukaan hutan dalam skala besar untuk proyek pangan, perkebunan, dan bioenergi yang masuk ke wilayah adat mereka. Melalui kisah masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, film ini menunjukkan bahwa hutan bukan sekadar pohon atau lahan kosong. Hutan adalah rumah, sumber pangan, sekolah kehidupan, dan identitas budaya masyarakat Papua. Ketika hutan dibuka dan berubah menjadi kawasan industri, masyarakat tidak hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan sebagian dari cara hidup mereka. Judul "Pesta Babi" diambil dari tradisi adat yang melambangkan persaudaraan, penghormatan, dan hubungan manusia dengan alam. Film ini menggunakan simbol tersebut untuk menggambarkan bagaimana budaya lokal sangat bergantung pada keberlangsungan hutan Pa...

Cara Paling Jitu Fokus Belajar Total (Terbukti Secara Ilmiah)

Fokus Belajar. Beberapa waktu lalu saya menonton video YouTube berjudul “Cara Paling Jitu Fokus Belajar Total Terbukti Secara Ilmiah” . Isinya sangat relate dengan pengalaman banyak orang: niat belajar satu jam, tapi baru 10 menit kemudian tangan sudah mencari ponsel. Jujur, saya juga pernah mengalami itu. Saat sedang menulis, membaca, atau menyiapkan materi, tiba-tiba muncul dorongan untuk “cek sebentar” notifikasi. Awalnya cuma lima menit, lalu tanpa sadar waktu habis begitu saja. Hal menarik dari video ini adalah penjelasannya: masalah fokus bukan sekadar kurang niat atau kurang disiplin. Ada proses biologis dan psikologis di otak kita yang membuat distraksi terasa sangat menarik. Mengapa Ponsel Sangat Sulit Dilepaskan? Otak manusia sejak dulu berevolusi untuk mencari hal-hal baru, kejutan, dan informasi penting. Dulu itu membantu manusia bertahan hidup. Sekarang, notifikasi ponsel memanfaatkan sistem yang sama. Inti yang paling saya tangkap Dopamin bukan sekadar hormon kebahagiaan...

Mengapa Kita Sering Lupa Isi Buku yang Baru Dibaca? Sebuah Refleksi dari Dunia Literasi

  Mengapa Kita Sering Lupa Isi Buku yang Baru Dibaca? Sebagai orang yang bekerja di bidang literasi, saya sering mendengar pertanyaan seperti ini: "Kak, saya sudah membaca buku sampai selesai, tetapi setelah beberapa hari saya lupa isi bukunya." Atau ada juga yang berkata: "Saya membaca halaman demi halaman, tetapi rasanya tidak mendapatkan apa-apa." Jujur saja, saya juga pernah mengalami hal yang sama. Dulu saya berpikir bahwa masalahnya mungkin karena saya kurang pintar atau kurang fokus. Namun setelah membaca berbagai buku, mengikuti perkuliahan, dan mendampingi banyak anak-anak dalam kegiatan literasi, saya menyadari bahwa memahami bacaan ternyata adalah sebuah keterampilan yang perlu dilatih. Membaca bukan sekadar melihat huruf demi huruf sampai halaman terakhir. Membaca adalah proses memahami, menghubungkan, mengingat, dan merefleksikan informasi yang kita terima. Mengapa Kita Sulit Memahami Buku? Menurut saya ada beberapa penyebab utama. 1. Buku yang Kita Bac...