Langsung ke konten utama

Mengapa Anak Muda Harus Berani Gagal dan Terus Mencoba?

Jangan batasi diri mumpung masih muda, harus berani melampaui batas diri

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah percakapan menarik antara Najwa Shihab dan Putri Tanjung. Ada banyak hal yang dibahas, mulai dari kesetaraan perempuan, pendidikan, kreativitas, kepemimpinan, sampai keberanian untuk mencoba hal-hal baru.


Namun dari semua percakapan itu, ada satu kalimat yang paling membekas di pikiran saya:

"If you don't ask, you don't get."

Kalau kita tidak meminta, kita tidak akan mendapatkan.

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat kuat. Karena sering kali yang membatasi kita bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Ketakutan yang Membatasi Diri

Banyak orang sebenarnya memiliki ide bagus, mimpi besar, dan potensi luar biasa. Tetapi mereka memilih diam.

Mengapa?

Karena takut ditolak.

Takut dianggap tidak mampu.

Takut gagal.

Takut malu.

Padahal ketika kita terlalu takut terhadap penolakan, sebenarnya kita sedang membatasi peluang kesuksesan kita sendiri.

Saya teringat banyak anak muda di Papua yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka pintar, kreatif, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun tidak sedikit yang merasa minder untuk berbicara, bertanya, atau mencoba kesempatan baru karena merasa berasal dari kampung, pedalaman, atau keluarga sederhana.

Padahal kesempatan sering datang kepada mereka yang berani mencoba.

Mumpung Masih Muda, Berani Gagal

Najwa Shihab mengatakan sesuatu yang menurut saya sangat penting:

"Mumpung masih muda, tidak apa-apa. Jangan gengsi-gengsian."

Kalimat ini mengingatkan saya bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk belajar, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan.

Kita tidak harus selalu berhasil.

Kita tidak harus selalu terlihat hebat.

Yang penting kita terus bergerak maju.

Karena kegagalan di usia muda sering kali menjadi guru terbaik yang mempersiapkan kita menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.

Daripada menyesal karena tidak pernah mencoba, lebih baik pernah gagal lalu belajar.

Kreativitas adalah Kunci Masa Depan

Salah satu bagian yang paling menarik dalam percakapan itu adalah ketika Najwa Shihab mengatakan bahwa kreativitas adalah kunci di semua bidang.

Bukan hanya untuk seniman atau desainer.

Tetapi untuk guru, aktivis sosial, pengusaha, jurnalis, bahkan pemimpin masyarakat.

Di era teknologi seperti sekarang, informasi bisa ditemukan dengan mudah. Namun yang membedakan seseorang adalah kemampuannya berpikir kreatif dan menemukan solusi.

Saya melihat sendiri bagaimana kreativitas sangat dibutuhkan dalam pendidikan masyarakat di Papua.

Ketika buku terbatas, kita harus kreatif.

Ketika akses internet sulit, kita harus kreatif.

Ketika fasilitas tidak lengkap, kita harus kreatif.

Kreativitas membantu kita menemukan jalan ketika keadaan terasa sulit.

Perempuan Harus Diberi Kesempatan yang Sama

Bagian lain yang sangat menyentuh adalah ketika Najwa Shihab berbicara tentang kesetaraan perempuan.

Menurut beliau, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam mewujudkan kesetaraan.

Masih banyak perempuan yang kesulitan mengakses pendidikan, pekerjaan, bahkan kebutuhan dasar.

Namun harapan tetap ada.

Harapan itu muncul ketika perempuan yang memiliki kesempatan mau membantu perempuan lain untuk bertumbuh.

Saya percaya bahwa kemajuan sebuah masyarakat tidak bisa dicapai jika setengah dari penduduknya tidak diberi kesempatan berkembang.

Di Papua, saya juga melihat banyak perempuan hebat. Mereka menjadi guru, ibu, penggerak komunitas, bahkan pemimpin di lingkungan mereka.

Yang mereka butuhkan sering kali bukan belas kasihan, tetapi kesempatan.

Anak Muda Harus Banyak Membaca

Ada satu pesan unik dari Najwa Shihab yang membuat saya tersenyum.

Beliau mengatakan bahwa mahasiswa harus romantis.

Maksudnya bukan hanya soal cinta, tetapi juga soal membaca, memperkaya kosakata, dan memperluas cara berpikir.

Orang yang banyak membaca biasanya memiliki lebih banyak sudut pandang, lebih kaya ide, dan lebih mampu menyampaikan pikirannya kepada orang lain.

Sebagai penggiat literasi, saya sangat setuju dengan hal ini.

Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan.

Membaca membantu kita memahami dunia dan memahami diri sendiri.

Optimisme Adalah Setia Pada Proses

Pesan terakhir yang saya pelajari dari percakapan ini adalah tentang optimisme.

Menurut Najwa Shihab, optimisme bukan berarti percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Optimisme adalah tetap setia pada proses.

Mendukung yang baik.

Mengkritik yang salah.

Terus berusaha meskipun perubahan tidak terjadi dengan cepat.

Saya pikir ini sangat relevan bagi siapa saja yang bekerja di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Perubahan tidak terjadi dalam satu malam.

Kadang kita harus menunggu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya.

Tetapi selama kita terus berjalan dan setia pada proses, harapan akan selalu ada.

Penutup

Dari percakapan ini saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.

Keberanian adalah tetap melangkah meskipun ada rasa takut.

Jangan membatasi diri hanya karena takut gagal.

Jangan menolak diri sendiri sebelum orang lain memberi kesempatan.

Dan jangan berhenti bermimpi hanya karena berasal dari tempat yang sederhana.

Karena sering kali batas terbesar dalam hidup bukan berada di luar diri kita, tetapi ada di dalam pikiran kita sendiri.

Mumpung masih muda, beranilah mencoba.

Karena seperti kata Najwa Shihab:

"If you don't ask, you don't get."

Kalau kita tidak berani meminta, mencoba, dan melangkah, maka kita tidak akan pernah tahu sejauh apa kita bisa bertumbuh.


Sumber inspirasi: Video YouTube “PEREMPUAN HEBAT Berani Melampaui BATAS DIRI | Jangan Batasi Diri Mumpung Masih MUDA - Najwa Shihab"

Catatan: Tulisan ini adalah ringkasan dan refleksi pribadi saya dari video tersebut, ditulis ulang dengan bahasa yang lebih sederhana dan natural.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Pesta Babi untuk Papua: Ketika Hutan Hilang, Ruang Belajar Anak-Anak Ikut Hilang

Termotivasi dari Film Pesta Babi  Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengangkat kehidupan masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi pembukaan hutan dalam skala besar untuk proyek pangan, perkebunan, dan bioenergi yang masuk ke wilayah adat mereka. Melalui kisah masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, film ini menunjukkan bahwa hutan bukan sekadar pohon atau lahan kosong. Hutan adalah rumah, sumber pangan, sekolah kehidupan, dan identitas budaya masyarakat Papua. Ketika hutan dibuka dan berubah menjadi kawasan industri, masyarakat tidak hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan sebagian dari cara hidup mereka. Judul "Pesta Babi" diambil dari tradisi adat yang melambangkan persaudaraan, penghormatan, dan hubungan manusia dengan alam. Film ini menggunakan simbol tersebut untuk menggambarkan bagaimana budaya lokal sangat bergantung pada keberlangsungan hutan Pa...

Cara Paling Jitu Fokus Belajar Total (Terbukti Secara Ilmiah)

Fokus Belajar. Beberapa waktu lalu saya menonton video YouTube berjudul “Cara Paling Jitu Fokus Belajar Total Terbukti Secara Ilmiah” . Isinya sangat relate dengan pengalaman banyak orang: niat belajar satu jam, tapi baru 10 menit kemudian tangan sudah mencari ponsel. Jujur, saya juga pernah mengalami itu. Saat sedang menulis, membaca, atau menyiapkan materi, tiba-tiba muncul dorongan untuk “cek sebentar” notifikasi. Awalnya cuma lima menit, lalu tanpa sadar waktu habis begitu saja. Hal menarik dari video ini adalah penjelasannya: masalah fokus bukan sekadar kurang niat atau kurang disiplin. Ada proses biologis dan psikologis di otak kita yang membuat distraksi terasa sangat menarik. Mengapa Ponsel Sangat Sulit Dilepaskan? Otak manusia sejak dulu berevolusi untuk mencari hal-hal baru, kejutan, dan informasi penting. Dulu itu membantu manusia bertahan hidup. Sekarang, notifikasi ponsel memanfaatkan sistem yang sama. Inti yang paling saya tangkap Dopamin bukan sekadar hormon kebahagiaan...

Mengapa Kita Sering Lupa Isi Buku yang Baru Dibaca? Sebuah Refleksi dari Dunia Literasi

  Mengapa Kita Sering Lupa Isi Buku yang Baru Dibaca? Sebagai orang yang bekerja di bidang literasi, saya sering mendengar pertanyaan seperti ini: "Kak, saya sudah membaca buku sampai selesai, tetapi setelah beberapa hari saya lupa isi bukunya." Atau ada juga yang berkata: "Saya membaca halaman demi halaman, tetapi rasanya tidak mendapatkan apa-apa." Jujur saja, saya juga pernah mengalami hal yang sama. Dulu saya berpikir bahwa masalahnya mungkin karena saya kurang pintar atau kurang fokus. Namun setelah membaca berbagai buku, mengikuti perkuliahan, dan mendampingi banyak anak-anak dalam kegiatan literasi, saya menyadari bahwa memahami bacaan ternyata adalah sebuah keterampilan yang perlu dilatih. Membaca bukan sekadar melihat huruf demi huruf sampai halaman terakhir. Membaca adalah proses memahami, menghubungkan, mengingat, dan merefleksikan informasi yang kita terima. Mengapa Kita Sulit Memahami Buku? Menurut saya ada beberapa penyebab utama. 1. Buku yang Kita Bac...